Kadang malam terasa terlalu tenang sampai kamu bisa dengar napasmu sendiri. Tapi malam itu beda. Malam itu aku dengar sesuatu yang lain—sebuah suara dari cermin. Awalnya samar, seperti bisikan. Tapi makin lama, makin jelas, makin nyata, dan… makin mengenaliku.
Aku nggak pernah percaya hal-hal mistis sebelumnya. Buatku, cermin cuma benda biasa. Tapi semua berubah sejak malam itu, malam di mana aku sadar kalau ada sesuatu di balik pantulannya—sesuatu yang bukan aku, tapi tahu segalanya tentang diriku.
Awal dari Semua Ini
Ceritanya bermula waktu aku pindah ke rumah nenek di pinggiran kota. Rumah itu tua, tapi anehnya semua benda di dalamnya masih rapi, termasuk satu cermin besar yang menggantung di kamar atas. Cermin itu tinggi, berbingkai kayu ukir tua, dan entah kenapa, meskipun ruangan berdebu, kaca itu selalu bersih seolah ada yang terus menjaganya.
Malam pertama, aku cuma mau tidur cepat. Tapi sekitar jam dua, aku kebangun karena dengar suara samar. Suara itu pelan banget, kayak napas yang keluar dari balik kaca. Aku pikir cuma ilusi. Tapi ketika aku mendekat, aku dengar dengan jelas:
“…Lila…”
Aku ngeri setengah mati. Itu namaku. Tapi aku di rumah sendirian malam itu.
Pantulan yang Tak Sama
Besoknya, aku coba anggap itu mimpi. Tapi saat aku mau bersiap di depan cermin, aku sadar sesuatu aneh: pantulanku bergerak sedikit terlambat. Aku senyum, tapi bayanganku baru senyum dua detik kemudian.
Aku mundur, mencoba meyakinkan diri kalau aku cuma kecapekan. Tapi bayangan di cermin itu… tetap menatapku. Bahkan saat aku udah menoleh ke arah lain.
Aku ngerasa dingin di tengkuk. Tapi sebelum aku pergi, pantulan itu tiba-tiba bicara—tanpa suara, cuma gerakan bibir. Aku bisa baca jelas dari pantulannya:
“Kau akan tahu kebenarannya malam ini.”
Aku nggak ngerti maksudnya. Tapi dalam hati kecilku, aku tahu… aku udah mulai main di wilayah yang seharusnya nggak kusentuh.
Malam Kedua: Panggilan dari Balik Kaca
Sekitar tengah malam, suara itu muncul lagi. Lebih jelas dari sebelumnya. Sekarang bukan cuma bisikan, tapi seperti seseorang berbicara langsung di telingaku dari dalam kaca.
“Lila… kau mau tahu siapa aku?”
Aku nggak menjawab. Tapi langkahku mendekat ke cermin itu seolah dikendalikan. Aku berdiri tepat di depannya, dan pantulan itu—aku—tersenyum. Tapi kali ini senyumnya bukan punyaku. Itu senyum dingin, miring, dan matanya gelap, seperti berlubang.
“Aku kamu… tapi versi yang kamu sembunyikan.”
Darahku langsung dingin. Aku mundur, tapi bayangan itu tetap di sana, tidak mengikuti gerakanku. Malah, tangannya bergerak duluan. Ia mengangkat jari, menyentuh permukaan kaca dari dalam. Saat itu, kaca terasa hidup—hangat dan berdenyut seperti kulit.
Aku menjerit, menjatuhkan senter, tapi ketika lampu padam, aku dengar tawa kecil dari dalam cermin itu.
Kisah Lama Nenek
Besok paginya, aku langsung tanya nenek soal cermin itu. Wajahnya langsung pucat. Dia cuma bilang satu hal, dengan suara gemetar:
“Cermin itu bukan milik kita. Jangan pernah menatapnya terlalu lama.”
Tapi aku maksa pengen tahu lebih. Akhirnya nenek cerita, cermin itu peninggalan dari rumah sakit tua tempat dia dulu bekerja. Dulu, seorang pasien meninggal di depan cermin itu—gadis muda yang katanya punya kemampuan melihat “pantulan jiwa.” Setelah kematiannya, semua cermin di rumah sakit itu ditutup, tapi entah kenapa, satu cermin menghilang.
Dan sekarang, cermin itu ada di kamarku.
Pantulan yang Ingin Hidup
Hari berikutnya, aku putuskan untuk menutupi cermin itu dengan kain putih tebal. Tapi malamnya, aku terbangun karena kainnya terlepas sendiri. Aku lihat pantulanku berdiri di dalam kaca, padahal aku masih berbaring.
Ia menatapku dan berkata,
“Kamu capek jadi kamu, kan?”
Aku nggak bisa bergerak. Suara itu makin lembut tapi mematikan.
“Biar aku yang gantiin. Aku lebih kuat. Aku lebih berani.”
Kaca mulai bergetar, dan aku bisa lihat retakan kecil muncul di permukaannya. Setiap retakan terdengar seperti napas seseorang—berdesis, pelan, dan menyatu dengan suaraku sendiri. Aku tahu satu hal: dia mencoba keluar.
Malam Ketiga: Pertukaran
Aku nyaris nggak tidur. Aku kunci pintu, tapi suara dari cermin terus memanggil. Pelan-pelan, suara itu berubah jadi tangisan, lalu jadi jeritan, seolah seseorang meminta tolong. Aku nggak tahan lagi. Aku buka selimut, jalan ke arah cermin itu.
Begitu aku berdiri di depannya, kaca itu retak seluruhnya. Dari dalam muncul tangan putih pucat, bergerak cepat, menarikku masuk.
Seketika semua gelap. Aku terjebak dalam ruang yang terasa sempit, tapi dari luar aku lihat sosokku—diriku sendiri—berdiri tegak, tersenyum. Ia menyentuh cermin dari luar, lalu berkata dengan suara tenang:
“Sekarang giliranku hidup.”
Hidup di Balik Cermin
Aku nggak tahu berapa lama aku di sini. Di sisi ini, waktu nggak berjalan. Yang kulihat cuma dunia nyata dari balik kaca. Kadang, aku melihat “diriku” melakukan hal-hal yang nggak pernah kulakukan—tersenyum palsu, berbicara dengan suara yang bukan suaraku, menatap cermin dengan tatapan kosong.
Orang-orang di sekitarku nggak sadar kalau itu bukan aku. Mereka pikir aku baik-baik aja. Tapi aku tahu, yang hidup di dunia itu sekarang adalah bayangan yang keluar dari cermin itu. Dan aku? Aku cuma pantulan yang terjebak.
Rahasia Suara dari Cermin
Ada teori kuno tentang cermin: katanya, setiap kali kamu menatap cermin terlalu lama, kamu sedang memberi “akses” pada dunia lain untuk menatap balik. Suara dari cermin bukan halusinasi—itu “gema jiwa,” bagian dari dirimu yang kehilangan arah dan mencoba menemukan jalan pulang.
Tapi kalau gema itu terlalu lama dibiarkan, ia bisa tumbuh jadi sesuatu yang nyata.
Sesuatu yang ingin menggantikanmu.
Cermin bukan cuma pantulan visual—itu pintu. Pintu ke sisi yang tak pernah kamu kenal dari dirimu sendiri.
Tanda-Tanda Cerminmu Terhubung dengan Dunia Lain
Kalau kamu ngerasa pernah ngalamin hal-hal ini, berhati-hatilah:
- Pantulanmu bergerak sedikit lebih lambat atau berbeda ekspresi.
- Kamu dengar suara samar saat malam, terutama saat sepi.
- Ada suhu dingin tiba-tiba di sekitar cermin.
- Cermin sering retak tanpa alasan.
- Kamu merasa diawasi setiap kali bercermin.
Kalau salah satu terjadi, jangan tatap kaca itu terlalu lama. Tutupi dengan kain, pindahkan, atau lebih baik… pecahkan. Tapi ingat, kalau kamu pecahkan cermin, jangan lihat pantulan terakhirnya. Kadang, yang di dalamnya masih menatap balik.
Kebenaran yang Tak Bisa Dihindari
Seminggu setelah kejadian itu, nenekku meninggal. Dalam surat wasiatnya, dia tulis satu kalimat aneh:
“Kalau kamu dengar suara dari cermin, jangan jawab.”
Sekarang aku ngerti kenapa. Aku masih mendengar suaranya, bahkan dari tempat ini. Kadang aku melihat seseorang baru di kamar itu, menatap ke cermin yang sama, mencoba bercermin seperti aku dulu. Aku ingin berteriak, memperingatkan mereka, tapi aku cuma bayangan.
Dan setiap kali mereka menatap lebih lama, aku bisa lihat sesuatu mulai bergerak di belakang mereka—sosok yang sangat mirip dengan diri mereka sendiri.
Makna Simbolis di Balik Cerita Ini
“Suara dari cermin” bukan cuma kisah horror, tapi metafora tentang bagaimana manusia bisa kehilangan dirinya sendiri. Cermin menggambarkan identitas—pantulan yang kita tunjukkan ke dunia. Tapi apa jadinya kalau pantulan itu mulai punya kehendak sendiri?
Kita semua punya sisi gelap yang disembunyikan, sisi yang nggak mau diakui. Dan ketika sisi itu tumbuh terlalu kuat, ia mulai berbicara—mungkin lewat keputusan, perasaan, atau bahkan… suara di malam hari.
Jadi, cermin itu bukan benda mistis, tapi simbol dari introspeksi ekstrem—saat kamu menatap dirimu terlalu dalam, dan akhirnya sadar… kamu nggak tahu siapa kamu sebenarnya.
Fakta Unik Tentang Cermin dan Kepercayaan Mistis
Beberapa kepercayaan kuno tentang cermin yang masih dipercaya sampai sekarang:
- Cermin dianggap portal ke dunia arwah.
- Dalam tradisi Tionghoa, cermin bisa menangkap roh jahat.
- Saat seseorang meninggal, semua cermin di rumah harus ditutup supaya roh tidak terperangkap.
- Beberapa budaya percaya, menatap cermin di tengah malam bisa membuka jalur komunikasi dengan “pantulan lain.”
FAQ: Suara dari Cermin
1. Apakah fenomena suara dari cermin bisa dijelaskan ilmiah?
Ada teori bahwa itu bentuk pareidolia—otak manusia menafsirkan suara acak sebagai sesuatu yang bermakna. Tapi banyak kasus yang nggak bisa dijelaskan secara logika.
2. Kenapa manusia takut melihat pantulannya sendiri?
Karena kita tahu, pantulan itu bukan hanya bentuk fisik—tapi juga sisi yang kita sembunyikan.
3. Apakah cerita ini fiksi?
Ceritanya fiksi, tapi terinspirasi dari kisah nyata dan pengalaman spiritual masyarakat.
4. Apakah cermin bisa menjadi portal?
Dalam beberapa kepercayaan, iya. Cermin dianggap penghubung antara dunia nyata dan dimensi spiritual.
5. Apa yang harus dilakukan jika mendengar suara dari cermin?
Jangan jawab. Tutupi kaca itu dan pindahkan ke tempat terbuka.
6. Apakah memecahkan cermin menghentikan fenomena itu?
Belum tentu. Kadang, memecahkan cermin justru membebaskan apa pun yang ada di dalamnya.
Kesimpulan
Suara dari cermin bukan sekadar kisah mistis—ini peringatan tentang batas antara kenyataan dan ilusi. Kadang kita terlalu sibuk mencari “diri sejati” sampai lupa bahwa bayangan juga ingin eksis.
Cermin bisa jadi teman, tapi juga musuh. Ia menampilkan siapa kamu, tapi kalau kamu terlalu sering menatapnya, bisa jadi kamu mulai melihat sesuatu yang tak seharusnya ada.